Menjaga Keotentikan Bacaan Al-Qur’an, IIQ Jakarta Kembali Gelar Daurah Metode Maisura
PETA IIQ — Dalam rangka menjaga keotentikan dan kualitas bacaan Al-Qur’an, Daurah Metode Maisura Kembali digelar, sebuah kajian intensif tahsin dan tartil Al-Qur’an tingkat mahir dan ahli. Kegiatan ini diselenggarakan selama empat hari, yakni pada tanggal 10–11 dan 17–18 Januari 2026, bertepatan dengan masa libur semester ganjil.
Daurah ini menghadirkan langsung penulis Metode Maisura sekaligus Pengasuh Pesantren Takhasus “IIQ Jakarta”, Assoc. Prof. Dr. KH. Ahmad Fathoni, Lc., M.A. Kegiatan terselenggara atas kerja sama Pesantren Takhasus IIQ Jakarta dengan Program Pascasarjana IIQ Jakarta sebagai bentuk komitmen bersama dalam meningkatkan mutu pembelajaran Al-Qur’an di lingkungan akademik dan masyarakat luas.
Pelaksanaan daurah dilakukan secara hybrid, yakni luring dan daring. Peserta dari wilayah Jabodetabek mengikuti kegiatan secara langsung di Pesantren Takhasus IIQ Jakarta, sementara peserta dari berbagai daerah di seluruh Indonesia mengikuti secara daring. Tercatat sekitar 290 peserta ambil bagian dalam kegiatan ini, yang mayoritas merupakan mahasiswa program magister (S2) dan doktor (S3) Pascasarjana IIQ Jakarta, serta diikuti pula oleh peserta umum dari berbagai latar belakang pendidikan dan lembaga.
Dalam pemaparannya, KH. Ahmad Fathoni menekankan pentingnya menjaga keaslian bacaan Al-Qur’an sesuai dengan sanad dan kaidah yang benar. Metode Maisura yang beliau susun hadir sebagai pendekatan sistematis dalam memperdalam pemahaman tajwid, makharijul huruf, sifat huruf, serta keindahan tartil yang unggul.
Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang kegiatan berlangsung. Hal ini tercermin dari berbagai testimoni yang disampaikan para peserta. Salah satunya disampaikan oleh Dr. Lilik Ummi Kaltsum, M.A., Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
“Saya sudah lama ingin mengikuti Daurah Maisura. Alhamdulillah, kali ini Allah memberikan rezeki saya bisa ikut dan hadir langsung bertatap muka dengan Kiai. Setelah mengikuti kajian ini, luar biasa sekali Metode Maisura, sangat berbeda dengan buku tajwid pada umumnya,” ungkap beliau.
Testimoni juga datang dari salah satu perwakilan mahasiswa program doktor (S3) IIQ Jakarta. Abdur Rozaq mengungkapkan bahwa kegiatan ini membuka cakrawala baru dalam perjalanan keilmuannya.
“Pertama kali masuk S3 di IIQ, ternyata saya baru menyadari bahwa saya itu tidak tau. Banyak ilmu yang harus saya pelajari. Ilmu ini sangat penting, apalagi saya memiliki majelis dan lembaga pendidikan,” tuturnya.
Daurah Metode Maisura ditutup dengan doa bersama yang berlangsung khidmat, dilanjutkan dengan sesi dokumentasi seluruh peserta bersama pemateri. Para peserta berharap majelis ilmu ini mendapatkan rida dan keberkahan dari Allah SWT, serta memohon agar Allah senantiasa memberikan kesehatan dan panjang umur kepada KH. Ahmad Fathoni agar terus dapat membimbing umat dalam menjaga kemurnian bacaan Al-Qur’an.NAA




