Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Raudhatul Qur’an
Jakarta, 12 September 2024 (8 Rabiul Awal 1446 H) – Dalam suasana penuh khidmat, Masjid Raudhatul Qur’an di Pesantren Takhasus IIQ Jakarta menjadi lokasi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diadakan pada hari Kamis. Acara ini dihadiri oleh seluruh mahasantri dengan semangat yang tinggi, serta menghadirkan penceramah yang telah dikenal luas, yaitu Ustadz Ulin Nuha, M.A.,Ust muda yang berpengalaman safari Dakwah di Korea Selatan pada bulan Ramadhan 2023 dan juga merupakan Dosen di IIQ Jakarta.
Pada kesempatan tersebut, KH. Ahmad Fathoni LC, MA selaku Dewan Pengasuh Pesantren, dalam sambutannya yang penuh inspirasi, menekankan pentingnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau juga memberikan kiat-kiat efektif bagi mahasantri, terutama bagi mereka yang baru satu bulan bermukim di pesantren, tentang bagaimana cara yang tepat untuk menghafal Al-Qur’an dengan baik. Penekanan pada metode yang benar dalam menghafal sangat relevan untuk membangun fondasi spiritual dan intelektual yang kuat di kalangan mahasantri.
Ustadz Ulin Nuha, M.A., sebagai narasumber dalam acara Maulid Nabi, memulai sesi dengan cara yang interaktif dengan menanyakan kepada mahasantri tentang berapa kali nama “Muhammad” disebut dalam Al-Qur’an. Jawaban antusias dari mahasantri, yang dengan semangat menyebutkan jumlah dan ayat-ayatnya, menunjukkan tingkat keterlibatan yang tinggi dan pemahaman yang baik terhadap Al-Qur’an tersebut.
Lebih jauh, Ustadz Ulin Nuha, M.A yang kerap akrab dipanggil Mahasiswi dengan sebutan Ust Korea juga menjelaskan bahwa terdapat dua cara utama dalam mencintai Rasulullah, yaitu dengan memperbanyak shalawat dan dengan meneladani akhlak serta perilaku Nabi Muhammad SAW. Ia menekankan bahwa memperingati Maulid Nabi bukan sekadar seremonial, melainkan merupakan wujud nyata kecintaan kita kepada beliau, yang dapat dilakukan melalui pengulangan dan pengkajian sirah nabawiyah serta amalan-amalan sunnah yang menjadi warisan berharga bagi umat Islam.
Baca juga: Tarawih Ala Masjidil Haram: Sarana Takrir Al-Qur’an Bagi Mahasantri
Acara ini ditutup dengan harapan agar seluruh mahasantri dapat tidak hanya memahami, tetapi juga mengimplementasikan nilai-nilai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari mereka. Komitmen untuk terus meningkatkan kecintaan terhadap Al-Qur’an dan sunnah diharapkan menjadi bagian integral dari perjalanan spiritual setiap individu di pesantren. Dengan semangat yang membara, seluruh mahasantri bertekad untuk meneladani ajaran-ajaran Nabi Muhammad saw, serta meneruskan risalah Islam dengan penuh dedikasi dan keikhlasan dalam setiap langkah kehidupan mereka.
